Aku pernah menjadi rumah
yang lampunya menyala terlalu lama
untuk seseorang
yang bahkan tidak merasa sedang pulang.
Tidak ada yang pecah saat itu.
Tak ada suara pintu dibanting.
Tak ada kata selamat tinggal.
Hanya pelan-pelan
ada yang dicabut dari dadaku,
seperti akar pohon tua
yang dipaksa lepas dari tanahnya sendiri.
Dan anehnya,
yang tidak sempat dimiliki
justru paling sulit ditinggalkan.
Sekarang aku pandai tertawa.
Pandai duduk di tengah ramai
seolah tidak pernah ada perang
di dalam kepala.
Padahal tiap malam
aku masih mengumpulkan serpihan diriku
yang tercecer di tempat-tempat kecil:
di lagu yang tidak sengaja terdengar,
di jalan yang pernah kulewati sambil berharap,
di jam-jam sepi
yang selalu tahu cara membuka luka
tanpa menyentuhnya.
Kau tahu rasanya
menjadi hujan
yang jatuh berkali-kali
di tanah yang sama
meski tahu tak akan pernah disimpan?
Aku tahu.
Aku hidup seperti paku
yang dipaksa menancap
di dinding yang rapuh.
Semakin bertahan,
semakin melukai diri sendiri.
Dan lucunya,
aku masih sibuk membela keadaan,
seolah rasa sakit ini cuma salah paham kecil
yang bisa sembuh sendiri.
Padahal di dalam dada
ada sesuatu yang terus berdarah
tanpa luka yang terlihat.
Aku tidak menangis lagi sekarang.
Air mata terlalu kecil
untuk kehilangan yang tidak punya nama.
Jadi kubiarkan saja
rindu ini membusuk pelan-pelan
di sudut tubuh
yang bahkan tak bisa kujangkau sendiri.
Semesta,
kalau memang beberapa orang diciptakan
hanya untuk singgah dan menghancurkan,
setidaknya setelah ini
ajarkan aku cara hidup
tanpa harus mengubur diriku sendiri
setiap kali mengingatnya.