Tuan, sebelum kau menamai sesuatu sebagai cinta, izinkan aku mengganggu keyakinanmu dengan satu pertanyaan yang mungkin terdengar sepele: bagaimana kau tahu itu benar-benar aku, dan bukan sekadar suasana yang kebetulan sedang berpihak pada perasaanmu?

Sebab hari itu, dunia seperti sedang berdandan rapi tanpa alasan yang jelas. Angin lewat dengan cara yang terlalu lembut, seperti tahu ia sedang disaksikan. Jakarta, yang biasanya tergesa dan bising, tiba-tiba menurunkan suaranya, seolah memberi ruang bagi dua orang asing untuk saling percaya lebih cepat dari seharusnya. Senja datang dengan warna yang terlalu meyakinkan, jingganya seperti janji indah, tapi tidak pernah bisa dipegang.

Dan kau, mungkin hanya berdiri di tengah semua itu, lalu menyimpulkan bahwa yang membuat dadamu terasa penuh adalah aku.

Padahal bisa jadi bukan.

Bisa jadi yang kau cintai adalah cara angin menyentuh kulitmu saat aku sedang berbicara. Atau cara cahaya jatuh di wajah siapa pun yang kebetulan berada di hadapanmu. Atau musik yang mengalir pelan dari earphone putih di telingamu yang diam-diam merapikan perasaanmu, lalu kau salah sangka, mengira akulah yang menenangkannya.

Bahkan kucing yang tidur di bawah pohon itu mungkin lebih jujur daripada perasaanmu ia tidak pernah berpura-pura mencintai apa pun, ia hanya memilih tempat yang teduh lalu tinggal.

Sementara kau memilihku.

Atau setidaknya, kau pikir begitu.

Aku ingin kau pulang sebentar, bukan ke rumahmu, tapi ke dalam dirimu sendiri ke tempat di mana tidak ada senja, tidak ada angin yang dramatis, tidak ada kota yang tiba-tiba menjadi puitis. Duduklah di sana, dalam keadaan biasa saja, dalam versi dunia yang tidak berusaha membuat apa pun terasa istimewa, lalu tanyakan sekali lagi: masihkah aku terlihat seperti seseorang yang layak kau cintai?

Karena aku tidak seindah yang sempat kau bayangkan. Aku tidak punya warna jingga untuk kau kenang setiap sore. Aku tidak selalu membawa ketenangan seperti lagu yang kau putar berulang-ulang. Aku hanyalah seseorang yang kebetulan lewat saat semesta sedang pandai merangkai ilusi.

Mungkin aku hanya gema suara yang terdengar utuh padahal tidak memiliki tubuh. Ia ada karena ruang di sekitarnya sedang kosong, karena dunia sedang cukup sunyi untuk memantulkannya berkali-kali, sampai kau lupa bahwa itu bukan suara asli.

Dan ketika hari kembali seperti biasanya angin tidak lagi lembut, kota kembali gaduh, senja kehilangan pesonanya, dan musikmu berhenti tepat di tengah lagu kau akan mulai mendengar dengan lebih jernih.

Di situlah mungkin kau akan sadar, dengan cara yang pelan tapi pasti, bahwa sejak awal bukan aku yang kau tuju.

Aku hanya kebetulan lewat di waktu yang salah, di perasaan yang terlalu siap untuk jatuh.