Senja selalu datang seperti penagih yang lembut membawa langit berwarna jingga, seolah-olah dunia sedang terbakar perlahan tanpa suara. Di saat seperti itu, aku kembali bertanya: berapa harga satu hari yang tenang? Apakah harus kubayar dengan dada yang penuh sesak, atau dengan air mata yang jatuh diam-diam di balik helm saat aku mengendarai motor tanpa arah? Jalanan memanjang seperti doa yang tak selesai, dan aku hanyut di dalamnya, berharap lelah ini punya tujuan.
Jingga di langit itu indah, tapi juga menyedihkan ia seperti perpisahan yang terlalu cantik untuk ditolak. Aku melihatnya dan merasa seperti diriku sendiri: tampak utuh dari jauh, tapi sebenarnya sedang tenggelam perlahan. Musik yang kudengar hanya menjadi gema dari sesuatu yang tak bisa kusebut namanya. Buku-buku yang kubaca seperti jendela, tapi tak pernah benar-benar memberiku jalan keluar. Aku tetap di dalam, menatap keluar, sambil bertanya: apa yang salah denganku, atau justru apa yang terlalu benar hingga terasa menyakitkan?
Lalu malam datang, tanpa mengetuk. Ia menyelimuti segalanya dengan gelap yang jujur. Tidak ada lagi yang disembunyikan. Di dalam sunyinya, aku mendengar suara hatiku sendiri pelan, rapuh, tapi tak bisa diabaikan. Kakiku terasa ngilu, bukan karena perjalanan hari ini, tapi karena perjalanan panjang yang bahkan aku tak ingat kapan dimulai. Aku lelah, tapi anehnya, aku juga takut berhenti. Seolah jika aku diam, semua rasa ini akan mengejarku tanpa ampun.
Tidak adakah ruang di antara senja dan malam, tempat aku bisa bernafas tanpa harus menjelaskan apa-apa? Tempat di mana aku tidak perlu kuat, tidak perlu mengerti, tidak perlu berpura-pura baik-baik saja? Aku ingin duduk di sana di antara jingga yang memudar dan gelap yang datang dan hanya menjadi manusia, dengan segala retak dan bingungnya.
Mungkin aku seperti langit itu sendiri tak pernah benar-benar hancur, hanya berubah warna. Dan mungkin, seperti yang pernah dirasakan oleh Jalaluddin Rumi, luka ini bukan akhir, melainkan pintu yang belum sempat kubuka. Tapi malam ini, aku belum ingin mencari makna. Aku hanya ingin merasakan.
Dan jika esok senja datang lagi, dengan jingga yang sama, mungkin aku akan kembali bertanya. Tapi kali ini, bukan tentang harga ketenangan melainkan apakah aku sudah cukup berani untuk menerimanya, saat ia akhirnya datang diam-diam, seperti malam yang memeluk tanpa suara.